Kamis, 21 Januari 2010

Kepemimpinan

BAB I
PENDAHULUAN

Kepemimpinan merupakan suatu proses dengan berbagai cara mempengaruhi orang atau sekelompok orang untuk mencapai suatu tujuan bersama. Pembahasan tentang kepemimpinan menyangkut tugas dan gaya kepemimpinan, cara mempengaruhi kelompok, yang mempengaruhi kepemimpinan seseorang.
Tugas kepemimpinan, meliputi dua bidang utama,pekerjaanyang harus diselesaikan dan kekompakan orang yang dipimpinannya. Tugas yang berhubungan dengan pekerjaan disebut task function. Tugsa yang berhubungan dengan pekerjaan perlu agar pekerjaan kelompok dapat diselesaikan dan kelompokm mencapai tujuannya. Tugas yang berhubungan dengan kekompakan kelompok dibutuhkan agar hubungan antar orang yang bekerjasama menyelesaikan kerja itu lancar dan enak jalannya.
Dalam melaksanakan tugas kepemimpina mempebgaruhi orang atau kelompok menuju tujuan tertentu,kita pemimpin, dipengaruhi oleh beberapa factor. Factor-faktor itu berasal dari diri kita sendiri,pandangan kita terhadap manusia, keadaan kelompok dan situasi waktu kepemimpina kita laksanakan.
Orang yang memandang kepemimpinan sebagai status dan hak untuk memdapatkan fasilitas, uang, barang, jelas akan menunjukkan praktek kepemimpinan yang tidak sama dengan orang yang mengartikan kepemimpinan sebagai pelayanan kesejahtraan orang yang dipimpinnya. Factor-faktor yang berasal dari kita sendiri yang mempengaruhi kepemimpina kita adalah pengertian kita tentang kepemimpinan, nilai atau hal yang kita kejar dalam kepemimpinan, cara kita menduduki tingkat pemimpin dan pengalaman yang kita miliki dalam bidang kepemimpinan.
Oleh karena itu pada pembahasan makalah ini kami bahas tentang Pendekatan Dalam Kepemimpinan, sebagai salah satu factor yang mempengaruhi tingkah laku seorang pemimpin.







BAB II
STUDI PENDEKATAN KEPEMIMPINAN

A. Pendekatan Sifat Pada Kepemimpinan
Pendekatan ini menekankan pada kualitas pemimpin. Keberhasilan pemimpin ditandai oleh daya kecakapan luar biasayang dimiliki oleh pemimpin, seperti tidak kenal lelah, intuisi yang tajam, tujuan ke masa depan yang tidak sempit, serta kecakapan yang meyakinkan yang sangat menarik.
Untuk menjadi seorang pemimpin yang efektif, para pengikut Anda harus memercayai Anda dan dilibatkan dalam visi yang Anda miliki. Korn/Ferry International, suatu perusahaan pencari para eksekutif, mengadakan survei mengenai apa yang diinginkan organisasi dari sang pemimpinnya. Para responden mengatakan bahwa mereka menginginkan orang yang beretika sekaligus memiliki visi ke depan yang kuat. Dalam banyak organisasi, tindakan seorang pemimpin menjadi teladan. Perilaku pemimpin bisa memenangkan kepercayaan, kesetiaan, dan menjamin vitalitas perusahaan agar berjalan dengan baik. Salah satu cara untuk membangun kepercayaan adalah dengan menunjukkan karakter yang baik -- terdiri dari keyakinan, nilai, kemampuan, dan sifat.
Sifat akan membedakan seseorang berdasarkan kualitas atau karakteristiknya, sedangkan karakter adalah jumlah keseluruhan dari sifat-sifat ini. Kita akan memfokuskan diri hanya pada beberapa sifat yang krusial untuk seorang pemimpin. Semakin banyak yang Anda miliki dari daftar berikut, semakin besar kepercayaan pengikut Anda terhadap Anda.


Sifat-Sifat Seorang Pemimpin yang Baik
• Jujur. Seorang pemimpin yang baik menunjukkan ketulusan, integritas, dan keterbukaan dalam setiap tindakannya.
• Kompeten. Tindakan seorang pemimpin haruslah berdasar pada penalaran dan prinsip moral, bukannya menggunakan emosi kanak-kanak dalam mengambil suatu keputusan.
• Berpandangan ke depan dan menetapkan tujuan. Dalam menetapkan tujuan, seorang pemimpin perlu menanamkan pemikiran bahwa tujuan itu adalah milik seluruh organisasi. Ia mengetahui apa yang diinginkannya dan bagaimana cara untuk mendapatkannya. Biasanya ia menetapkan prioritas berdasarkan nilai dasarnya.
• Memberi inspirasi. Dalam mengerjakan setiap tugas, seorang pemimpin harus menunjukkan rasa percaya diri, ketahanan mental, fisik, dan spiritual. Dengan begitu, bawahan akan terdorong untuk mencapai yang lebih baik lagi.
• Cerdas. Seorang pemimpin yang efektif harus memiliki kemauan untuk terus membaca, belajar, dan mencari tugas-tugas yang menantang kemampuannya.
• Berpikiran adil. Prasangka adalah musuh dari keadilan. Seorang pemimpin yang baik akan memperlakukan semua orang dengan adil. Ia menunjukkan empatinya dengan bersikap peka terhadap perasaan, nilai, minat, dan keberadaan orang lain.
• Berpikiran luas. Pemimpin yang baik menyadari setiap perbedaan yang ada dalam ruang lingkup kepemimpinannya dan mau menerima segala perbedaan itu.
• Berani. Seorang pemimpin yang baik selalu bertekun dalam usahanya mencapai tujuan, bukannya terus-terusan berusaha mengatasi berbagai halangan yang memang sulit untuk diatasi. Biasanya, meskipun sedang berada di bawah tekanan, ia tetap tenang dan menunjukkan rasa percaya diri.
• Tegas. Anda tidak dapat menjadi seorang pemimpin yang baik bila tidak tegas dalam mengambil keputusan tepat di saat yang tepat.
• Imajinatif. Inovasi dan kreativitas diperlukan dalam suatu kepemimpinan.

B. Pendekatan Tingkah Laku Pada Kepemimpinan
Pendekatan tingkah laku kepemimpinan artinya perbuatan, kelakuan, atau perangai seorang pemimpin.
Selama tiga dekade, dimulai pada permulaan tahun 1950-an, penelitian mengenai perilaku pemimpin telah didominasi oleh suatu fokus pada sejumlah kecil aspek dari perilaku. Kebanyakan studi mengenai perilaku kepemimpinan selama periode tersebut menggunakan kuesioner untuk mengukur perilaku yang berorientasi pada tugas dan yang berorientasi pada hubungan. Beberapa studi telah dilakukan untuk melihat bagaimana perilaku tersebut dihubungkan dengan kriteria tentang efektivitas kepemimpinan seperti kepuasan dan kinerja bawahan. Peneliti-peneliti lainnya menggunakan eksperimen laboratorium atau lapangan untuk menyelidiki bagaimana perilaku pemimpin mempengaruhi kepuasan dan kinerja bawahan. Jika kita cermati, satu-satunya penemuan yang konsisten dan agak kuat dari teori perilaku ini adalah bahwa para pemimpin yang penuh perhatian mempunyai lebih banyak bawahan yang puas.
Hasil studi kepemimpinan Ohio State University menunjukkan bahwa perilaku pemimpin pada dasarnya mengarah pada dua kategori yaitu consideration dan initiating structure. Hasil penelitian dari Michigan University menunjukkan bahwa perilaku pemimpin memiliki kecenderungan berorientasi kepada bawahan dan berorientasi pada produksi/hasil. Sementara itu, model leadership continuum dan Likert’s Management Sistem menunjukkan bagaimana perilaku pemimpin terhadap bawahan dalam pembuatan keputusan. Pada sisi lain, managerial grid, yang sebenarnya menggambarkan secara grafik kriteria yang digunakan oleh Ohio State University dan orientasi yang digunakan oleh Michigan University. Menurut teori ini, perilaku pemimpin pada dasarnya terdiri dari perilaku yang pusat perhatiannya kepada manusia dan perilaku yang pusat perhatiannya pada produksi.


C. Pendekatan Kontingensi Dalam Kepemimpinan
Pendekatan ini di sebut juga pendekatan situasional, sebagai tehnik yang paling baik dalam memberikan kontribusi untuk pencapaian sasaran organisasi dan munkin bervariasi dalam lingkungan yang berbeda.
Teori-teori kontingensi berasumsi bahwa berbagai pola perilaku pemimpin (atau ciri) dibutuhkan dalam berbagai situasi bagi efektivitas kepemimpinan. Teori Path-Goal tentang kepemimpinan meneliti bagaimana empat aspek perilaku pemimpin mempengaruhi kepuasan serta motivasi pengikut. Pada umumnya pemimpin memotivasi para pengikut dengan mempengaruhi persepsi mereka tentang konsekuensi yang mungkin dari berbagai upaya. Bila para pengikut percaya bahwa hasil-hasil dapat diperoleh dengan usaha yang serius dan bahwa usaha yang demikian akan berhasil, maka kemungkinan akan melakukan usaha tersebut. Aspek-aspek situasi seperti sifat tugas, lingkungan kerja dan karakteristik pengikut menentukan tingkat keberhasilan dari jenis perilaku kepemimpinan untuk memperbaiki kepuasan dan usaha para pengikut.
LPC Contingency Model dari Fiedler berhubungan dengan pengaruh yang melunakkan dari tiga variabel situasional pada hubungan antara suatu ciri pemimpin (LPC) dan kinerja pengikut. Menurut model ini, para pemimpin yang berskor LPC tinggi adalah lebih efektif untuk situasi-situasi yang secara moderat menguntungkan, sedangkan para pemimpin dengan skor LPC rendah akan lebih menguntungkan baik pada situasi yang menguntungkan maupun tidak menguntungkan.
Leader Member Exchange Theory menjelaskan bagaimana para pemimpin mengembangkan hubungan pertukaran dalam situasi yang berbeda dengan berbagai pengikut. Hersey and Blanchard Situasional Theory lebih memusatkan perhatiannya pada para pengikut. Teori ini menekankan pada perilaku pemimpin dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya dan hubungan pemimpin pengikut.

Leader Participation Model menggambarkan bagaimana perilaku pemimpin dalam proses pengambilan keputusan dikaitkan dengan variabel situasi. Model ini menganalisis berbagai jenis situasi yang mungkin dihadapi seorang pemimpin dalam menjalankan tugas kepemimpinannya. Penekanannya pada perilaku kepemimpinan seseorang yang bersifat fleksibel sesuai dengan keadaan yang dihadapinya.
D. Pendekatan Tingkah Laku Dari Kouzes
Kepemimpinan merupakan hal yang penting dalam organisasi, karena menyangkut hubungan antara pemimpin dengan anggota.
Dalam pendekatan tingkah laku kepemimpinan dari Kouzes adalah ia meyakini bahwa suatu kinerja yang memiliki kualitas unggul berupa barang atau pun jasa, hanya dapat dihasilkan oleh para pemimpin yang memiliki kualitas prima.
Dikemukakan, kualitas kepemimpinan manajerial adalah suatu cara hidup yang dihasilkan dari “mutu pribadi total” ditambah “kendali mutu total” ditambah “mutu kepemimpinan”.
Berdasarkan penelitiannya, ditemukan bahwa terdapat 5 (lima) praktek mendasar pemimpin yang memiliki kualitas kepemimpinan unggul, yaitu;
1. pemimpin yang menantang proses
2. memberikan inspirasi wawasan bersama
3. memungkinkan orang lain dapat bertindak dan berpartisipasi
4. mampu menjadi penunjuk jalan, dan
5. memotivasi bawahan.



BAB III
KARAKTERISTIK PRIBADI DARI KARYAWAN
Bila semua karyawan diperusahaan mampu bekerja dengan etos kerja terbaik, maka budaya perusahaan akan bertransformasi menjadi budaya high trust. Budaya high trust akan menghasilkan kredibilitas yang menciptakan rasa percaya setiap stakeholder kepada reputasi perusahaan. Untuk itu, perusahaan harus memiliki tindakan nyata untuk menanam etos kerja yang berkualitas di dalam DNA organisasi. Penanaman ini harus dimulai dari mind set setiap karyawan dan pimpinan perusahaan.
Pada umumnya, karyawan – karyawan yang beretos kerja terbaik itu akan berperilaku atau pun berciri-ciri seperti.
1. Mereka akan bekerja untuk membangun reputasi dan kredibilitas dirinya, agar dirinya dihargai perusahaan. Mereka sadar bahwa prestasi dan karir kerja mereka hanya akan berjalan baik, bila mereka mampu berdedikasi total kepada pekerjaan mereka.
2. Mereka sangat loyal kepada pimpinan dan perusahaan. Mereka juga tidak pernah hitung-hitungan jam kerja. Apa pun kejadiannya, mereka akan mengutamakan tanggung jawab pekerjaannya secara maksimal.
3. Mereka bergabung ke perusahaan dengan membawa misi dan visi pribadi mereka. Yang pasti, mereka akan menggunakan perusahaan sebagai kendaraan untuk memperbaiki kualitas hidup mereka, baik itu dari sisi finansial, maupun dari sisi status sosial mereka.
4. Mereka selalu fokus dan memiliki Komitmen tinggi untuk menjalankan semua rencana kerja perusahaan secara total dan berkualitas. Mereka akan mendedikasikan dirinya untuk bekerja keras mengejar target-target yang diberikan perusahaan.
5. Demi untuk keberhasilan perusahaan, mereka selalu bekerja dengan cara melakukan kolaborasi, koordinasi, komunikasi dengan atasan dan bawahan mereka.
BAB IV
MASA DEPAN TEORI KEPEMIMPINAN
Suatu persyaratan penting bagi efektivitas atau kesuksesan pemimpin (kepemimpinan) dan manajer (manajemen) dalam mengemban peran, tugas, fungsi, atau pun tanggung jawabnya masing-masing adalah kompetensi. Konsep mengenai kompetensi untuk pertamakalinya dipopulerkan oleh Boyatzis (1982) yang didefinisikan kompetensi sebagai “kemampuan yang dimiliki seseorang yang nampak pada sikapnya yang sesuai dengan kebutuhan kerja dalam parameter lingkungan organisasi dan memberikan hasil yang diinginkan”. Secara historis perkembangan kompetensi dapat dilihat dari beberapa definisi kompetensi terpilih dari waktu ke waktu yang dikembangkan oleh Burgoyne (1988), Woodruffe (1990), Spencer dan kawan-kawan (1990), Furnham (1990) dan Murphy (1993).
Beberapa pandangan di atas mengindikasikan bahwa kompetensi merupakan karakteristik atau kepribadian (traits) individual yang bersifat permanen yang dapat mempengaruhi kinerja seseorang. Selain traits dari Spencer dan Zwell tersebut, terdapat karakteristik kompetensi lainnya, yatu berupa motives, self koncept (Spencer, 1993), knowledge, dan skill ( Spencer, 1993; Rothwell and Kazanas, 1993). Menurut review Asropi (2002), berbagai kompetensi tersebut mengandung makna sebagai berikut : Traits merunjuk pada ciri bawaan yang bersifat fisik dan tanggapan yang konsisten terhadap berbagai situasi atau informasi. Motives adalah sesuatu yang selalu dipikirkan atau diinginkan seseorang, yang dapat mengarahkan, mendorong, atau menyebabkan orang melakukan suatu tindakan. Motivasi dapat mengarahkan seseorang untuk menetapkan tindakan-tindakan yang memastikan dirinya mencapai tujuan yang diharapkan (Amstrong, 1990). Self concept adalah sikap, nilai, atau citra yang dimiliki seseorang tentang dirinya sendiri; yang memberikan keyakinan pada seseorang siapa dirinya. Knowledge adalah informasi yang dimilki seseorang dalam suatu bidang tertentu. Skill adalah kemampuan untuk melaksanakan tugas tertentu, baik mental atau pun fisik.

BAB V
KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas dapat di simpulkan bahwa :
 hal yang perlu diperhatikan dalam sifat kepemimpinan adalah karakter dari sosok pemimpin itu sendiri karena seorang yang berkarakter kuat menunjukkan aktivitas, energi, kemantapan tekad, disiplin, kemauan keras, dan keberanian. Dia melihat apa yang ia inginkan lalu mengejarnya. Ia juga menarik orang untuk mengikutinya.sedangkan orang yang berkarakter lemah tidak menunjukkan sifat-sifat tersebut. Ia tidak tahu apa yang ia inginkan. Sifatnya tidak terkelola dengan baik, terombang-ambing dan tidak konsisten. Akibatnya, tidak ada seorang pun yang bersedia mengikutinya.
 Berdasarkan agama islam ada 4 sifat dasar yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin yaitu : siddiq, amanah, tabligh, dan fatonah.
 Perilaku pemimpin pada dasarnya terdiri dari perilaku yang pusat perhatiannya kepada manusia dan perilaku yang pusat perhatiannya pada produksi.
 Teori-teori kontingensi berasumsi bahwa berbagai pola perilaku pemimpin (atau ciri) dibutuhkan dalam berbagai situasi bagi efektivitas kepemimpinan
 Berdasarkan teori kouzes terdapat 5 (lima) praktek mendasar pemimpin yang memiliki kualitas kepemimpinan unggul, yaitu; pemimpin yang menantang proses, memberikan inspirasi wawasan bersama, memungkinkan orang lain dapat bertindak dan berpartisipasi, mampu menjadi penunjuk jalan, dan memotivasi bawahan.




DAFTAR PUSTAKA
 Wahjosumidjo, kepemimpinan kepala sekolah, Jakarta : rajawali pers 2008
 Rivai Veithzal,Kpemimpinan dan Perilaku organisasi, Jakarta :PT.Raja Grafindo Persada, 2007
 http://www.nwlink.com/~donclark/leader/leadchr.html
 www.ninecorporatetrainer.com
 http://aparaturnegara.bappenas.go.id/data/Kajian/Kajian-2003/Dimensi%





read more...

PELAYANAN DAN PERLENGKAPAN PERPUSTAKAAN


BAB I
PENDAHULUAN

Perpustakaan merupakan salah satu sarana pembelajaran yang dapat menjadi sebuah kekuatan untuk mencerdaskan bangsa. Perpustakaan mempunyai peranan penting sebagai jembatan menuju penguasaan ilmu pengetahuan yang sekaligus menjadi tempat rekreasi yang menyenangkan dan menyegarkan.
Perpustakaan memberi kontribusi penting bagi terbukanya informasi tentang ilmu pengetahuan. Sedangkan perpustakaan merupakan jantung bagi kehidupan aktifitas akademik, karena dengan adanya perpustakaan dapat diperoleh data atau informasi yang dapat digunakan sebagai dasar pengembangan ilmu pengetahuan.
Untuk memperbaiki kondisi tersebut, perpustakaan harus menjadi sarana aktif/interaktif dan menjadi tempat dihasilkannya berbagai hal baru.
Oleh karena itu pada makalah ini kami bahas tentang salah satu bagian dari manajemen perpustakaan, yaitu tentang pelayanan, perlengkapan dan sumber daya manusia petugas. Yang meliputi : sirkulasi, referensi, tata tertib, peralatan, perlengkapan, keriteria petugas, da kiat menarik pengunjung.
Semoga dengan pembahasan ini dapat memberikan kontribusi dan pemahaman mahasiswa tentang pengelolaan perpustakaan.





BAB II
PELAYANAN DAN PERLENGKAPAN PERPUSTAKAAN

A.Pelayanan
Perkembangan perpustakaan dilihat dari kepentingan pengguna dirasakan belum menggembirakan. Masih banyak “tuntutan” pengguna yang belum dapat dipenuhi oleh perpustakaan.
Untuk itu perlu kiranya dipikirkan sebuah sinergitas yang mengakomodasi kedua kepentingan tersebut sehingga terjadi keseimbangan dalam pemenuhan kebutuhan tersebut. Perpustakaan, Universitas dan Pengguna perlu berjalan bersama untuk memikirkan sebuah perpustakaan yang sesuai dengan kebutuhan mereka dan dapat memberikan pelayanan yang terbaik.
Bidang layanan perpustakaan ini dapat dilihat dari beberapa hal seperti:
a. Layanan Sirkulasi
Penerapan dalam bidang layanan sirkulasi dapat meliputi banyak hal diantaranya adalah layanan peminjaman dan pengembalian, statistik pengguna, administrasi keanggotaan, dll. Selain itu dapat juga dilakukan silang layan antar perpustakaan yang lebih mudah dilakukan apabila teknologi informasi sudah menjadi bagian dari layanan sirkulasi ini.
b. Layanan Referensi
Penerapan dalam layanan referensi dan hasil-hasil penelitian dapat dilihat dari tersedianya akses untuk menelusuri sumber-sumber referensi bahan pustaka yang ada.



c. Layanan Tata tertib

Mahasiswa yang akan meminjam koleksi perpustakaan wajib mentaati tata tertib sebagai berikut :

a). Menunjukan kartu anggota perpustakaan yang masih berla

ku.

b). Bertanggung jawab atas bahan bacaan yang di pinjam dan tidak di

perkenankan mengembalikan buku melalui orang lain.


c). Jangka waktu peminjaman bahan pustaka untuk di bawa pulang ke

rumah : mahasiswa, dosen, serta karyawan maksimal 1 ( satu ) ming-

gu apabila terlambat dikenakan sangsi/ denda Rp. 500.- ( lima ratus

rupiah ) satu hari satu buku.

e). Wajib meninggalkan identitas diri ( kartu tanda mahasiswa, kartu

forum, DPP ( pembayaran uang perkuliahan ) yang masih berlaku

pada petugas bagian peminjaman .

f). Buku pinjaman dapat di perpanjang kembali bila tidak ada yang me-

merlukannya, untuk memperpanjang jangka waktu peminjaman

buku tersebut, harus di bawa kebagian peminjaman guna untuk di

berikan tanggal kembali yang baru. Lamanya perpanjangan buku 2

( dua ) kali 1 ( satu ) minggu bagi mahasiswa.




B. Perlengkapan
Perabot perpustakaan adalah sarana pendukung atau perlengkapan
perpustakaan yang digunakan dalam proses pelayanan pemakai perpustakaan dan merupakan kelengkapan yang harus ada untuk terselenggaranya perpustakaan.
Yang termasuk dalam perabot/perlengkapan perpustakaan antara lain : Rak buku, Rak majalah, Rak surat kabar, Rak atlas dan kamus, Papan peraga / pameran, Laci penitipan tas, Lemari catalog, Lemari multi media, Lemari Arsip, Meja dan kursi sirkulasi, Meja dan kursi baca, Meja dan kursi pegawai, Kereta buku, barang, dan Tangga beroda.
Sedangkan peralatan perpustakaan adalah barang-barang yang diperlukan secara
langsung dalam mengerjakan tugas/kegiatan di perpustakaan. Yang termasuk
dalam perlengkapan perpustakaan antara lain :buku pedoman perpustakaan,Buku klasifikasi, Kartu catalog, Buku Induk, Kantong buku, Lembar tanggal kembali, Label, Cap inventaris, Cap perpustakaan, Bak stempel, Kartu pemesanan, Mesin ketik/Komputer, ATK, Selotip,dan Lem dll.















BAB III
SUMBER DAYA MANUSIA

A. Keriteria Patugas
Sumber daya manusia perpustakaan terdiri dari pustakawan, tanaga fungsional lain dan tenaga administrasi berfungsi untuk menggerakkan aktivitas perpustakaan. Kualitas mereka perlu ditingkatkan terus menerus agar mampu mengoptimalkan kinerja dan menggerakkan sumber daya lainnya.
Perlunya peningkatan kualitas karena adanya realitas di lapangan bahwa mereka itu kurang motivasi, rendah kinerja, kurang berani tampil, mandul pemikiran dan bekerja statis. Hal-hal seperti inilah yang kurang mampu mendorong perkembangan perpustakaan dan profesi pustakawan di negeri ini.
Peningkatan sumber daya manusia tidak harus dengan biaya mahal. Maka upaya peningkatan ini dapat dilaksanakan melalui pendidikan formal, informal dan nonformal.
Pada umumnya, karyawan – karyawan yang beretos kerja terbaik itu akan berperilaku atau pun berciri-ciri seperti.
1. Mereka akan bekerja untuk membangun reputasi dan kredibilitas dirinya, agar dirinya dihargai perusahaan. Mereka sadar bahwa prestasi dan karir kerja mereka hanya akan berjalan baik, bila mereka mampu berdedikasi total kepada pekerjaan mereka.
2. Mereka sangat loyal kepada pimpinan dan perpustakaan. Mereka juga tidak pernah hitung-hitungan jam kerja. Apa pun kejadiannya, mereka akan mengutamakan tanggung jawab pekerjaannya secara maksimal.
3. Mereka bergabung ke perpustakaan dengan membawa misi dan visi pribadi mereka. Yang pasti, mereka akan menggunakan perpustakaan sebagai kendaraan untuk memperbaiki kualitas hidup mereka, baik itu dari sisi finansial, maupun dari sisi status sosial mereka.
4. Mereka selalu fokus dan memiliki Komitmen tinggi untuk menjalankan semua rencana kerja perpustakaan secara total dan berkualitas. Mereka akan mendedikasikan dirinya untuk bekerja keras mengejar target-target yang diberikan perpustakaan
5. Demi untuk keberhasilan perpustakaan, mereka selalu bekerja dengan cara melakukan kolaborasi, koordinasi, komunikasi dengan atasan dan bawahan mereka.
B. Promosi Perpustakaan
Promosi perpustakaan adalah aktivitas memperkenalkan perpustakaan dari segi fasilitas, koleksi jenis layanan, dan manfaat yang dapat diperoleh oleh setiap pemakai perpustakaan secara lebih terperinci, tujuan promosi perpustakaan adalah :
1. memperkenalkan fungsi perpustakaan kepada masyarakat pemakai mendorong minat baca dan mendorong masyarakat agar menggunakan koleksi perpustakaan semaksimalnya dan menambah jumlah orang yang membaca
2. memperkenalkan pelayanan dan jasa perpustakaan kepada masyarakat.
Metode memamerkan jasa perpustakaan dapat berupa nama dan logo, poster dan panflet, pameran, media dan video, ceramah, dan iklan
Sarana promosi bentuk tercetak yang dapat dilakukan untuk sarana promosi perpustakaan, antara lain adalah sebagai berikut : brosur , poster, map khusus perpustakaan, pembatas buku
Hal lain yang harus diketahu untuk mempromosikan perpustakaan adalah unsur-unsur promosi seperti di bawah ini :
- attention/perhatian - action/tindakan
- interest/ketertariakan - satisfy/kepusan
- desire/keinginan
C. Kiat Menarik Pengunjung
Salah satu cara yang efektif untuk menembus pembatas dan penghalang komunikasi antara perpustakaan dan penggunanya adalah dengan jalan mengadakan kegiatan perpustakaan yang melibatakan staf perpustakaan dan pengguna. Beberapa macam kegiatan yang dapat dilakukan untuk promosi antara lain dengan peningkatan diri para petugas perpustakaan yaitu dengan berusaha tampil penuh percaya diri, berpandangan positif, dan berpakaian dengan sopan dan rapi.
Pendekan pada guru dilakukan dengan cara proaktif, membuat daftar buku yang ada di perpustakaan berkenaan dengan tiap mata pelajaran dan diberikan kepada masing-masing guru sesuai dengan mata pelajarannya, meminta daftar buku yang diperlukan guru-guru dalam menunjang pengajaran mereka
Pendekatan dengan pihak pemimpin dengan cara membuat perencanaan jangka pendek (1 tahun) yang berkualitas dengan argumentasi yang kuat dan diajukan kepada kepala sekolah, membuat laporan pembangunan perpustakaan secara periodik (perkuartal, persemeter, atau pertahun, mengajukan kepada kepala sekolah agar mewajibkan anak didik mengikuti kelas perpustakaan satu jam pelajaran dalam satu minggu
Selain itu petugas juga memberikan pelayanan yang baik agar kepuasan pengguna tercapai yaitu dengan memelihara penantaan buku yang rapi agar buku mudah didapat, membiasakan diri agar biasa berdisiplin dengan waktu, melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab.
Kegiatan penunjang perpustakaan yang lain adalah membuat poster, membuat pamflet, mengadakan pameran buku



DAFTAR PUSTAKA

 Moedzakir, Pemeliharaan Buku dan Menjilid, Yogyakarta : Pusdiklat Perpustakaan IKIP, 1980.
 Basuki, Sulistyo, Pengantar Ilmu Perpustakaan, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1991.
 Razak, Mohammadin, Pelestarian bahan pustaka dan arsip, Jakarta : Program Pelestarian Bahan Pustaka dan Arsip, 1992.
 Martoatmodjo, Karmidi : Pelestarian Bahan Pustaka, Jakarta : Universitas Terbuka, 1993.






read more...

Epistimologi Islam

Epistimologi Islam secara sederhananya adalah faham ilmu menurut Islam, atau dengan kata lain apa itu ilmu menurut Islam, apa sumber-sumbernya, apa tingkatan-tingkatannya,dll. Islam misalnya menganut faham bahwa manusia itu bisa tahu,. Perkataan bisa itu perlu digaris bawahi, karena ada epistimologi lain yang mengatakan bahwa manusia itu tidak tahu. Itulah epistimologi orang-orang shopist, yang pernah hidup sebelum kelahiran para ahli filsafat klasik, seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles yang menolaknya. Dalam hal ini epistimoogi Islam setuju dengan ahli-ahli filsafat klasik tersebut.



Namun epistimologi Islam jauh lebih tinggi dari epistimologi para ahli filsafat itu, karena mereka berhenti pada sumber panca indera dan akal manusia saja untuk tahu. Sementara epistimologi Islam menyempurnaka pengetahuan yang di capai oleh indera dan akal manusia dengan satu lagi sumber ilmu yaitu wahyu, yaitu al-qur’an dan hadits.

Jadi selain menerima indera dan akal manusia sebagai sumber ilmu, epistimologi Islam juga melibatkan wahyu yaitu al-qur’an dan hadits sebagai sumber ilmu. Kadang-kadang indera dan akal manusia tidak bisa membuat keputusan yang pasti tentang suatu pengetahuan, maka peranan wahyu adalah memastikannya.

Contohnya mengenai berita bahwa akan ada hidup setelah mati, hal ini tidak bisa di pastikan dengan indera dan akal manusia, akal hanya bisa mengatakan munkin ada hidup setelah mati. Akan tetapi Rasulullah saw. Memberi kepastian bahwa hidup setelah mati itu pasti bukan sekedar kemunkian.

Karena tujuan ilmu adalah untuk mencapai kepastian dan keyakinan, maka panca indera dan akal saja tidak sempurna untuk mencapai tujuan ilmu tadi. Inilah diantara faham ilmu epistimlogi islam.

Oleh : SUBLIYANTO



read more...

Program Kerja HMJ Tarbiyah


PROGRAM KERJA
HIMPUNAN MAHASISWA JURUSAN ( HMJ ) TARBIYAH
STAI LUQMAN AL-HAKIM PESANTEREN HIDAYATULLAH SURABAYA PERIODE 2010

NO NAMA KEGIATAN TUJUAN SASARAN WAKTU
1 FORUM DIDKUSI ANTAR MAHASISWA TARBIYAH
( FOR_DIMATA ) MENINGKATKAN KUALIATAS DAN KAPASITAS INTELEKTUAL MAHASISWA MAHASISWA TARBIYAH SEMINNGGU SEKALI
2 PEMBUATAN BLOG HMJ TARBIYAH MENAMPUNG SEMUA TULISAN BAIK BERUPA MAKALAH,ARTIKEL,MAUPUN ASPIRASI MAHASISWA TARBIYAH MAHASISWA TARBIYAH EVERYDAY
3 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN MENSOSIALISASIKAN PENTINGNYA ISLAMISASI PENDIDIKAN UMUM SITUASIONAL



read more...

Struktur Kepengurusan HMJ Tarbiyah


STRUKTUR KEPENGURUSAN
HIMPUNAN MAHASISWA JURUSAN ( HMJ ) TARBIYAH
STAI LUQMAN AL-HAKIM PESANTEREN HIDAYATULLAH SURABAYA PERIODE 2010

KAJUR TARBIYAH : UST. MASYHUD, M.Si

KETUA : DARMAWANSYAH

SEKRETARIS : SUBLIYANTO

BENDAHARA : SAHARUDIN

DIVISI-DIVISI :

• D.HUMAS : ABDUL WAKIT

• D.INFOKOM : SUGENG

• D.P2 SDM : HENDRI ABDUL AZIZ

• D.KEROHANIAN : RICKY YUDHI TRIANTO



read more...

Katalogisasi Bahan Perpustakaan

Perpustakaan merupakan salah satu sarana pembelajaran yang dapat menjadi sebuah kekuatan untuk mencerdaskan bangsa. Perpustakaan mempunyai peranan penting sebagai jembatan menuju penguasaan ilmu pengetahuan yang sekaligus menjadi tempat rekreasi yang menyenangkan dan menyegarkan.
Perpustakaan memberi kontribusi penting bagi terbukanya informasi tentang ilmu pengetahuan. Sedangkan perpustakaan merupakan jantung bagi kehidupan aktifitas akademik, karena dengan adanya perpustakaan dapat diperoleh data atau informasi yang dapat digunakan sebagai dasar pengembangan ilmu pengetahuan.
Untuk memperbaiki kondisi tersebut, perpustakaan harus menjadi sarana aktif/interaktif dan menjadi tempat dihasilkannya berbagai hal baru.
Oleh karena itu pada makalah ini kami bahas tentang salah satu bagian dari manajemen perpustakaan, yaitu Katalogisasi dan Pemeliharaan buku. Semoga dengan pembahasan ini kita dapat mengambil hikmahnya sehingga dapat di implementasikan dalam kehidupan kita.

KATALOGISASI

A. Arti Katalogisasi
Perpustakaan sebagai suatu sistem informasi berfungsi menyimpan pengetahuan dalam berbagai bentuk serta pengaturannya sedemikian rupa, sehingga informasi yang diperlukan dapat diketemukan kembali dengan cepat dan tepat. Untuk itu informasi yang ada diperpustakaan perlu diproses dengan system katalogisasi (cataloging).
Proses katalogisasi merupakan pembuatan identitas atau data bibliografi bahan pustaka dengan tujuan mempermudah pengguna jasa perpustakaan untuk temu kembali informasi bahan pustaka. Data bibliografi tersebut biasanya terdiri dari, pengarang, pengarang tambahan, judul, anak judul, judul seragam, penerbit, tempat terbit, edisi, tahun terbit,bibliografi, jumlah halam dll.
B. Tujuan dan Fungsi Katalog
Tujuan katalogisasi menurut Carles Ammi Cutter (dalam Qalyubi, 2007) bahwa tujuan catalog perpustakaan adalah :
1. Memberikan kemungkinan seseorang menemukan sebuah buku yanh diketahui berdasarkan pengarang, judul buku dan subyeknya.
2. Menunjukan buku yang dimilki perpustakaan dari pegarang tertentu, berdasarkan subyek tertentu, dan dalam literatur tertentu.
3. Membantu dalam pemilihan buku berdasarkan edisinya atau berdasarkan karakternya.
Adapun fungsi dari pembuatan katalog adalah untuk mempermudah pencarian buku dalam perpustakaan berdasarkan pengarang, judul dan subyek.
C. Cara Membuat Katalog
Sistem katalogisasi yang dikembangkan mengalami berbagai tahapan penyeragaman peraturan katalogisasi. perkembangan terakhir yang sampai sekarang masing digunakan untuk pedoman katalogisasi secara internasional adalah : Anglo American Cataloguing Ruler 2 : Revised ( 1988 )/ AACR2R.
Sedangkan perpustakaan mempunyai bentuk fisik katalog yang bermacam-macam:
1. Katalog Kartu (Card Catalog) ukuran 7,5cm x 12,5 cm
2. Katalog Berkas (Sheaf Catalog) ukuran 10 cm x 20 cm
3. Katalog Cetak atau Katalog Buku (Printed Catalog)
4. Katalog OPAC (Online Public Access Catalog).
Sedangkan untuk jenis katalog perpustakaan ada beberapa jenis :
1. Katalog Shelflist
2. Katalog Pengarang
3. Katalog Judul ; dan
4. Katalog Subyek.

D. Cara Menyusun Katalog
Cara menyusun katalog ada 2 macam yaitu :
a) Bagi kelompok kartu katalog yang pengarang, kartu katalog judul, dan kartu katalog subyek, masing-masing di susun menurut urutan secara alfabetis dari pada huruf-huruf nama pengarang, judul dan subyek.
b) Bagi kelompok katalog shelflist, disusun menurut urutan nomor penempatan yang tercantum pada sudut kiri atas, sepertihalnya menyusun buku pada rak buku menurut urutan nomor penempatan yang tercantum pada label yang di tempelkan pada punggung buku.

E. Labelisasi
Salah satu dari bentuk pengeloaan perpustakaan adalah adanya label atau cap pada setip bahan pustaka. Dalam pemberian cap atau label pada bahan pustaka terdapat dua hal yang perlu di perhatikan yaitu :
1. Label atau cap pada inventaris, yaitu cap atau stempel yang terdiri atas kolom -kolom isisan nomor inventaris dan tanggal pada waktu buku di daftar di dalam buku inventaris. Bentuknya terserah pada selera masing-masing perpustakaan yang memiliki.
2. Label atau cap perpustakaan, yaitu cap atau stempel yang terddiri dari nama perpustakaan yang bersangkutan dan bentuknyapun terserah kepada selera perpustakaan yang memiliki.
PENYUSUNAN DAN PEMELIHARAAN BUKU
A. Penyusunan Buku
Dalam menyusun buku terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu :
1. Buku-buku di susun menurut urutan nomor klas mulai dari yang terkecil sampai pada yang terbesar.
2. Kemudian susunan dilanjutankan dengan susunan menurut urutan secara alfabetis 3 huruf kependekan nama utama / keluargapengarangsatu persatu, mulai huruf ke 1, 2 ,dan ke 3, dilanjutkan dengan urutan secara alfabetis pula satu huruf pertama dari judul.
3. Selanjutnya diteruskan dengan urutan nomor maupun huruf lain yang kiranya masih trcantum dalam label nomor penempatan.

B. Pemeliharaan Buku
Bahan pustaka adalah unsur penting dalam sistem perpustakaan, dimana bahan pustaka harus dilestarikan karena memiliki nilai informasi yang mahal. Bahan pustaka berupa terbitan buku, berkala (surat kabar dan majalah), dan bahan audio visual seperti audio kaset, video, slide, CD-Rom dan sebagainya.
Pemeliharaan bahan pustaka tidak hanya secra fisik saja, namun juga meliputi isinya yang berbentuk informasi yang terkandung di dalamnya.
Pemliharaan merupakan kegiatan mengusahakan agar bahan pustaka yang kita kerjakan tidak cepat mengalami kerusakan, awet, dan bisa dipakai lebih lama serta bisa menjangkau lebih banyak pembaca perpustakaan.
Pemeliharaan Bahan Pustaka pada dasarnya ada 2 (dua) cara :
1.Pemeliharaan kondisi lingkungan bahan pustaka, yang meliputi :
a) mencegah kerusakan bahan pustaka dari pengaruh cahaya.
b) mencegah kerusakan bahan pustaka dari pengaruh suhu udara dan kelembaban udara
c) mencegah kerusakan dari faktor kimia, partikel debu, dan logam dari udara
d) mencegah kerusakan dari faktor biota dan jamur
e) mencegah kerusakan dari faktor air
f) mencegah kerusakan dari faktor kebakaran
g) melakukan fumigasi ; tindakan pengasapan yang bertujuan mencegah,
2. Pemeliharan kondisi fisik bahan pustaka meliputi :
a) menambal dan menyambung
b) menambal dengan bubur kertas
c) menambal dengan potongan kertas
d) menambal dengan kertas tisu
e) menyambung dengan kertas tisu
f) laminasi dengan tangan
g) laminasi dengan mesin pres panas
h) laminasi dengan filmoplast
i) enkapsulasi (memberikan bahan pelindung dengan film plastik polyester )
j) penjilidan dan perbaikan

Dalam pemeliharaan bahan pustaka ada beberapa tujuan yang hendak dicapai terkait dengan kegiatan pemeliharaan bahan pustaka di perpustakaan :
1) menyelamatkan nilai informasi yang terkandung dalam setiap bahan pustaka atau dokumen
2) menyelamatkan bentuk fisik bahan pustaka atau dokumen
3) mengatasi kendala kekurangan ruang (space)
4) mempercepat proses temu balik atau penelusuran dan perolehan informasi
5) menjaga keindahan dan kerapian bahan pustaka

Kegiatan Pemeliharaan bahan pustaka memiliki beberapa fungsi antara lain :
1) Fungsi perlindungan : upaya melindungi bahan pustaka dari beberapa faktor yang mengakibatkan kerusakan
2) Fungsi pengawetan : upaya pengawetan terhadap bahan pustaka agar tidak cepat rusak dan dapat dimanfaatkan lebih lama lagi.
3) Fungsi kesehatan : upaya menjaga bahan pustaka tetap dalam kondisi bersih sehingga tidak berbau pengap dan tidak mengganggu kesehatan pembaca maupun pustakawan.
4) Fungsi pendidikan : upaya memberikan pendidikan kepada pembaca, bagaimana memanfaatkan bahan pustaka yang baik dan benar
5) Fungsi kesabaran : upaya pemeliharaan bahan pustaka membutuhkan kesabaran dan ketelitian.

DAFTAR PUSTAKA

 Moedzakir, Pemeliharaan Buku dan Menjilid, Yogyakarta : Pusdiklat Perpustakaan IKIP, 1980.
 Basuki, Sulistyo, Pengantar Ilmu Perpustakaan, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1991.
 Razak, Mohammadin, Pelestarian bahan pustaka dan arsip, Jakarta : Program Pelestarian Bahan Pustaka dan Arsip, 1992.
 Martoatmodjo, Karmidi : Pelestarian Bahan Pustaka, Jakarta : Universitas Terbuka, 1993.



read more...

Selasa, 19 Januari 2010

Belajar Agar, Beradab

Pendiri Nahdlatul Ulama (NU), K.H. M. Hasyim Asy’ari, menulis sebuah buku penting bagi dunia pendidikan. Judulnya, Aadabul ‘Aalim wal-Muta’allim Terjemahan harfiahnya: Adab Guru dan Murid. Buku ini membahas tentang konsep adab. Kyai Hasyim Asy’ari membuka kitabnya dengan mengutip hadits Rasulullah saw: “Haqqul waladi ‘alaa waalidihi an-yuhsina ismahu, wa yuhsina murdhi’ahu, wa yuhsina adabahu.” (Hak seorang anak atas orang tuanya adalah mendapatkan nama yang baik, pengasuhan yang baik, dan adab yang baik).

Jadi, mendidik anak agar menjadi orang beradab, sejatinya adalah tugas orang tua.
Sebagai institusi pendidikan, sekolah mengambil alih sebagian tugas itu, menggantikan amanah yang dibebankan kepada orang tua. Tujuannya tetap sama: jadikanlah anak beradab! Adab memang sangatlah penting kedudukannya dalam ajaran Islam. Imam Syafii, imam mazhab yang banyak menjadi panutan kaum Muslim di Indonesia, pernah ditanya, bagaimana upayanya dalam meraih adab? Sang Imam menjawab, bahwa ia selalu mengejar adab laksana seorang ibu yang mencari anak satu-satunya yang hilang.”

Demikianlah sebagian penjelasan KH Hasyim Asy’ari tentang makna adab. Menyimak paparannya, maka tidak bisa tidak, kata adab memang merupakan istilah yang khas maknanya dalam Islam. Bahkan, menurutnya, salah satu indikator amal ibadah seseorang diterima atau tidak di sisi Allah SWT adalah tergantung pada sejauh mana aspek adab disertakan dalam setiap amal perbuatan yang dilakukannya.

Lalu, apa sebenarnya konsep adab? Uraian yang lebih rinci tentang konsep adab dalam Islam disampaikan oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, pakar filsafat dan sejarah Melayu. Menurut Prof. Naquib al-Attas, adab adalah “pengenalan serta pengakuan akan hak keadaan sesuatu dan kedudukan seseorang, dalam rencana susunan berperingkat martabat dan darjat, yang merupakan suatu hakikat yang berlaku dalam tabiat semesta.” Pengenalan adalah ilmu; pengakuan adalah amal. Maka, pengenalan tanpa pengakuan seperti ilmu tanpa amal; dan pengakuan tanpa pengenalan seperti amal tanpa ilmu. ”Keduanya sia-sia kerana yang satu mensifatkan keingkaran dan keangkuhan, dan yang satu lagi mensifatkan ketiadasedaran dan kejahilan,” demikian Prof. Naquib al-Attas. (SM Naquib al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin, (ISTAC, 2001).

Begitu pentingnya masalah adab ini, maka bisa dikatakan, jatuh-bangunnya umat Islam, tergantung sejauh mana mereka dapat memahami dan menerapkan konsep adab ini dalam kehidupan mereka. Manusia yang beradab terhadap orang lain akan paham bagaimana mengenali dan mengakui seseorang sesuai harkat dan martabatnya. Martabat ulama yang shalih beda dengan martabat orang fasik yang durhaka kepada Allah. Jika dikatakan menyebutkan, manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling taqwa, maka seorang yang beradab tidak akan lebih menghormat kepada penguasa yang zalim ketimbang guru ngaji di kampung yang shalih. Itu adab kepada manusia.
Adab terkait dengan iman dan ibadah dalam Islam. Adab bukan sekedar ”sopan santun”. Jika dimaknai sopan santun, bisa-bisa ada orang yang menuduh Nabi Ibrahim a.s. sebagai orang yang tidak beradab, karena berani menyatakan kepada ayahnya, ”Sesungguhnya aku melihatmu dan kaummu berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS 6:74). Bisa jadi, jika hanya berdasarkan sopan santun, tindakan mencegah kemunkaran (nahyu ’anil munkar) akan dikatakan sebagai tindakan tidak beradab. Padahal, dalam Islam, adab terkait dengan iman dan ibadah kepada Allah. Ukuran seorang beradab atau tidak ditentukan berdasarkan ukuran sopan-santun menurut manusia. Seorang yang berjilbab di kolam renang bisa dikatakan berperilaku tidak sopan, karena semua perenangnya berbikini.

Adab di Tamadun Melayu Ulama besar dan sastrawan dari Riau, Raja Ali Haji pun telah menyinggung tentang pentingnya akal adan adab. Ia menyatakan kelebihan seorang manusia adalah pada akal dan adab dan bukan pada janis bangsa dan asal. Maka, dalam kitabnya, Bustan al Katibin, yang ditulisnya tahun 1850, ia menyatakan: “Jikalau beberapa pun bangsa jika tiada ilmu dan akal dan adab, ke bawah juga jatuhnya, yakni kehinaan juga diperolehnya.”

Maka agar seseorang, masyarakat atau bangsa itu menjadi mulia, Ali Haji menasehatkan agar individu-individu itu memahami agama. Sebagaimana hadits Rasulullah saw yang terkenal: “Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan, maka ia diberi pemahaman kepada ilmu agama (ad diin).”

Pembinaan individu yang ber-adab ini juga menjadi perhatian yang serius ulama-ulama Melayu abad 18. Seperti Syekh Abdus Shamad al Palimbani dan Syekh Daud Abdullah Fathani. Syekh Palimbani misalnya menulis Hidayah as Salikin. Kitab ini disusun diantaranya merujuk pada karya-karya Imam al Ghazali Minhajul Abidin, Ihya’ Ulumud Din dan dan al-Arbain fi Ushul ad Din. Sedangkan karya Syeikh Daud bin Abdullah al Fathani diantaranya adalah menerjemahkan kitab al Ghazali Bidayah al Hidayah. (Dikutip dari makalah pakar sejarah Melayu, Wan Mohd Shaghir Abdullah, “Sejarah Tasawuf dan Perkembangannya di Nusantara”, 2006).

Syekh Wan Ahmad al Fathani dari Pattani (1856-1908), dalam kitabnya Hadiqatul Azhar war Rayahin (Terj. Oleh Wan Shaghir), berpesan agar seseorang mempunyai adab, maka ia harus selalu dekat dengan majelis ilmu. Ia menyatakan : “Jadikan olehmu akan yang sekedudukan engkau itu (majelis) perhimpunan ilmu yang engkau muthalaah akan dia. Supaya mengambil guna engkau daripada segala adab dan hikmah.”
Menjabarkan konsep adab Prof. SM Naquib al-Attas, Prof. Wan Mohd. Nor Wan Daud, guru besar Institut Alam dan Tamadun Melayu—Universiti Kebangsaan Malaysia, mencatat, bahwa sedikitnya terdapat 18 entri mengenai ta’dib, addaba dan adab yang bisa dijumpai dalam lebih dari satu buku koleksi hadits. Lihat AJ Wensinck dan JP Mensing, Boncordance Indices de la Tradition Musulmane, 7 jil. (Leiden :EJ Brill, 1943), I :26 ; Nasrat Abdel Rahman, The Semantic of Adab in Arabic, al Syajarah jil.2, No. 2, 1997, hh. 189-207. Dalam artikel ini Prof. Abdel Rahman menganalisis pelbagai arti perkataan adab dan perkataan yang diderivasi darinya, khususnya perkataan ta’dib, dari 50 pengarang (penulis) buku berbahasa Arab dan analisis tersebut secara umum menguatkan pemahaman al Attas.”

Perkataan adab, menurut al Attas, memiliki arti yang sangat luas dan mendalam, sebab pada awalnya perkataan adab berarti undangan ke sebuah jamuan makan,yang di dalamnya sudah terkandung ide mengenai hubungan social yang baik dan mulia. Namun adab kemudian digunakan dalam konteks yang terbatas, seperti untuk sesuatu yang merujuk pada kajian kesusastraan dan etika profesional dan kemasyarakatan. Menurut Wan Daud, filosof terkenal, Al Farabi juga mendefinisikan ta’dib sebagai aktivitas yang memproduksi suatu karakter yang bersumber dari sikap moral. Maka, sebenarnya, makna kedua istilah, ta’lim dan tarbiyah telah tercakup di dalam istilah ta’dib. Ibnul Mubarak menyatakan: “Kita lebih memerlukan adab daripada ilmu yang banyak.”

Jika adab hilang pada diri seseorang, maka akan mengakibatkan kezaliman, kebodohan dan menuruti hawa nafsu yang merusak. Karena itu, adab mesti ditanamkan pada seluruh manusia dalam berbagai lapisan, pada murid, guru, pemimpin rumah tangga, pemimpin bisnis, pemimpin masyarakat dan lainnya. Bagi orang-orang yang memegang institusi, bila tidak terdapat adab, maka akan terjadi kerusakan yang lebih parah. Kata Prof Wan Mohd. Nor: ”Gejala penyalahgunaan kuasa, penipuan, pelbagai jenis rasuah, politik uang, pemubaziran, kehilangan keberanian dan keadilan, sikap malas dan ’sambil lewa’, kegagalan pemimpin rumah tangga dan sebagainya mencerminkan masalah pokok ini.”

Sikap boros dalam menggunakan kekayaan negara adalah sifat yang buruk bagi pemimpin dan dapat berakibat pada pencopotan dari jabatannya. Dalam teks Hikayat Aceh menurut Prof. Wan Mohd Nor (2007), terdapat dua kasus, dimana Sultan Seri Alam yang sangat boros dan Sultan Zainal Abidin yang zalim dimakzulkan dari kursi pemerintahan.

Adab terhadap ilmu Jadi, menurut Prof. Wan Mohd. Nor, jika adab hilang pada diri seseorang, maka akan mengakibatkan kezaliman, kebodohan dan menuruti hawa nafsu yang merusak. Manusia dikatakan zalim, jika – misalnya – meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Maka, dengan pemahaman seperti itu, seorang Muslim yang beradab pasti lebih mencintai dan mengidolakan Nabi Muhammad saw ketimbang manusia mana pun. Manusia Muslim yang beradab juga akan menghormati sahabat-sahabat nabi dan keluarganya. Begitu juga seorang muslim yang beradab akan lebih menghormati ulama pewaris nabi, ketimbang penguasa yang zalim. Salah satu adab penting yang harus dimiliki seorang Muslim adalah adab terhadap ilmu. Saeorang yang beradab, menurut SM Naquib al-Attas, seorang beradab haruslah mengenal derajat ilmu, mana ilmu yang wajib ‘ain (wajib dimiliki oleh setiap muslim) dan mana yang wajib kifayah (wajib dimiliki sebagian Muslim).

Islam memandang kedudukan ilmu sangatlah penting, sebagai jalan mengenal Allah dan beribadah kepada-Nya. Ilmu juga satu-satunya jalan meraih adab. Orang yang berilmu (ulama) adalah pewaris nabi. Karena itu, dalam Bidayatul Hidayah, Imam Al-Ghazali mengingatkan, orang yang mecari ilmu dengan niat yang salah, untuk mencari keuntungan duniawi dan pujian manusia, sama saja dengan menghancurkan agama. Dalam kitabnya, Adabul ‘Alim wal-Muta’allim, KH Hasyim Asy’ari juga mengutip hadits Rasulullah saw: “Barangsiapa mencari ilmu bukan karena Allah atau ia mengharapkan selain keridhaan Allah Ta’ala, maka bersiaplah dia mendapatkan tempat di neraka.”

Ibnul Qayyim al-Jauziyah, murid terkemuka Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, juga menulis sebuah buku berjudul Al-Ilmu. Beliau mengutip ungkapan Abu Darda’ r.a. yang menyatakan: “Barangsiapa berpendapat bahwa pergi menuntut ilmu bukan merupakan jihad, sesungguhnya ia kurang akalnya.” Abu Hatim bin Hibban juga meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah r.a., yang pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa masuk ke masjid ku ini untuk belajar kebaikan atau untuk mengajarkannya, maka ia laksana orang yang berjihad di jalan Allah.”

Karena begitu mulianya kedudukan ilmu dalam Islam, maka seorang yang beradab tidak akan menyia-nyiakan umurnya untuk menjauhi ilmu, atau mengejar ilmu yang tidak bermanfaat, atau salah niat dalam meraih ilmu. Sebab, akibatnya sangat fatal. Ia tidak akan pernah mengenal Allah, tidak akan pernah meraih kebahagiaan sejati. Sebab, dengan mengenal dan berzikir kepada Allah, maka hati akan menjadi tenang.

Maka, belajarlah ilmu yang benar! Belajarlah dengan niat yang benar! Jadilah manusia yang adil dan beradab! Ingatlah, nasihat Luqmanul Hakim kepada anaknya:”Wahai anakku, janganlah kamu menserikatkan Allah, sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar.” (QS 31:13)


read more...